Kamis, 30 Desember 2010

Si Boy

Bisa seru sendiri gitu itu orang".



Komentar pertama yang muncul di kepala saya ketika melihat tingkah orang itu.

Sebut saja Si Boy.

Karena saya tidak tahu berapa kisaran umur nya, dan jujur saya tidak mampu atau lebih tepat nya tidak berani memperkirakan umur anak itu.

Dia punya suatu "keunikan".



Saya sudah beberapa kali melihat si boy di stasiun ini, hampir setiap saya ingin mudik dengan kereta saya melihat si boy di sini.

Tapi ada yang berbeda dari Si Boy kali ini.

Biasa nya dia berpakaian lusuh dan agak compang, celana pendek, rambut tipis agak panjang yang bergaya kusut, serta beberapa lembar koran yang dipeluk nya untuk dijajakan kepada orang-orang di stasiun.

Namun kali ini Si Boy terlihat lebih rapi, atau saya lebih senang menyebut nya elegan.

Sekarang ini dia menggunakan kemeja lengan panjang hitam kotak-kotak yang dimasukkan rapi ke celana nya, disertai kaos putih sebagai daleman nya. Celana pendek nya pun terlihat lebih rapi dari biasa nya, dengan warna cream dan ikat pinggang kulit yang ada tempat untuk menempatkan hand phone si bagian pinggang nya.

Persis sekali dengan style ala eksekutif muda.

Apalagi ditambah gaya nya berjalan seperti pejabat itu, cukup membuat saya bahkan orang-orang di stasiun ini memperhatikan nya.



Selain gaya berpenampilan nya yang berbeda, hal lain yang membuat saya tersenyum dan tak bosan memperhatikan nya adalah saat Si Boy memegang hand phone (ntah asli atau tidak) dan bergaya seolah-olah sedang menelpon seseorang.



Persis sekali.

Mimik.

Intonasi.

Gaya bicara.

Serta jeda kalimat yang ditunjukkan nya seperti seorang bos yang berbicara kepada bawahan nya. Bahkan sesekali terlihat seperti seorang eksekutif yang sedang bergurau dengan rekan bisnis nya.

Persis sekali.



~Tapi yang membuat nya lebih menarik ialah Si Boy menampilkan semua itu dengan bahasa dia sendiri.

Ya, bahasa yang benar-benar hanya ia sendiri yang memahami nya.



Setelah puas menelpon ia pun memasukkan kembali hand phone nya ke dalam sarung hand phone yang melekat manis di pinggang nya.



....



Usai menonton pertunjukkan singkat Si Boy, saya pun melepaskan konsentrasi ke sisi yang lain.

Sekedar melenyapkan kebosanan yang hinggap saat menunggu kereta api yang sedang "delay" cukup lama sebelum keberangkatan.

Tak lama dari saya mengamati sekitar stasiun, saya pun teringat kembali akan peran Si Boy tadi.

Saya mencari iseng di kerumunan anak-anak yang sedang duduk.

Di sana pandangan saya terhenti pada tokoh utama cerita ini. Si Boy.



Dia sedang bercerita dengan teman-teman nya, tapi tetap dengan bahasa nya sendiri.



Di penampilan nya kali ini Si Boy lebih all out, ia benar-benar membawakan cerita dengan ekspresi yang luar biasa, ditambah dengan deskripsi cerita yang ditunjukkan menggunakan kedua tangan nya.

Ia pun tak ragu untuk menoleh dan menatap mata teman nya ketika sedang bercerita, seolah teman-teman nya itu mengerti dengan bahasa penyampaian cerita itu.



Si Boy seakan tak perduli orang lain mengerti atau tidak dengan bahasa nya.



Mungkin yang ada di hati kecil nya hanya lah suatu ungkapan.

"Aku bahagia dengan dunia ku, karena aku mendapatkan kebahagian dengan cara ku"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar